Raja Radio Amatir Glodok

H. Daryanto Dahlir, SE
Ketua Umum BPD Hipmi Lampung, Periode 1995-1998

Tak banyak pengusaha pribumi yang mampu menembus belantara elektronik Glodok, Jakarta Barat. Penguasa pasar elektronik terbesar di Asia Tenggara ini, mayoritas keturunan Tionghoa. Namun H. Daryanto Dahlir, membuktikan tak ada yang mustahil jika serius berusaha.

Lewat Toko Prista Jaya, Daryanto menembus Glodok dengan spesialisasi dagangan radio komunikasi amatir pada tahun 1985. Nama tokonya berasal dari kata ‘pribumi wiraswasta’ yang disingkat menjadi ‘prista’. “Saya ingin membuktikan, orang pribumi pun mampu menembus Glodok,” kata Daryanto.

Dua merek andalannya; Kenwood dan Yaesu laku keras. Apalagi saat itu booming radio komunikasi. Keberhasilan ini, rupanya membuat produsen Kenwood yang berbasis di Jepang mengalihkan pabriknya di Indonesia. Lewat PT Haco Murni, Kenwood diproduksi di Indonesia, khusus untuk pasar Indonesia.

Sayangnya, Kenwood produksi Haco kurang sukses. Masyarakat lebih suka Kenwood impor ketimbang rakitan lokal. Produksi Kenwood lokal pun dihentikan dan PT Haco Murni beralih menjadi produsen parabola dengan merek Chavarel. Di balik kegagalan itu, ternyata produsen Jepang memercayai Daryanto sebagai agen tunggal Kenwood di Indonesia, pada tahun 1987. Usianya saat itu 28 tahun. Di usia belia itu, Daryanto dipercaya mengatur hitam putih dan hidup matinya Kenwood di Indonesia.

Kepiawaian alumnus SMA Negeri 2 Tanjungkarang ini, rupanya sampai ke telinga Gubernur Lampung Poedjono Pranjoto. Daryanto dipanggil pulang kampung membenahi sistem komunikasi, agar kantor-kantor pemerintahan yang jauh dari Bandar Lampung dan wilayah-wilayah yang sulit dijangkau mudah mendapat akses informasi.

Kabupaten Lampung Barat yang baru dimekarkan dari Lampung Utara, menjadi ajang uji coba keahliannya. Maklum, sejumlah perusahaan yang ditunjuk Pemerintah Provinsi Lampung, berulangkali gagal. “Saya disuruh membangun radio komunikasi yang dibayar jika berhasil,” kata dia.

Membangun sistem komunikasi di wilayah minim infrastruktur bukan perkara mudah. “Untuk memanaskan solder, terpaksa pakai korek api. Semua peralatan apa adanya. Namun dalam waktu singkat, seluruh kecamatan di Lampung Barat, berhasil ditembus dan tersambung dalam sistem komunikasi radio amatir,” kata Daryanto.

Pada tahun 1991, Lampung Barat terputus dari isolasi komunikasi. Keberhasilan itu membuat Gubernur Poedjono mempercayakannya memasang jaringan komunikasi radio amatir di seluruh kabupaten dan kota. Apalagi saat itu Lampung bersiap menghadapi Pemilu 1992.

Sukses membangun jaringan komunikasi seluruh kabupaten/kota, satu persatu pekerjaan di luar bidangnya seperti jasa konstruksi datang padanya. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, Jakarta ini pun lebih banyak berkutat di Lampung, hingga dipercaya memimpin Hipmi pasca kepengurusan Sachirudin Zuber.

Bentuk BPC Hipmi
Pengalamannya berkeliling Lampung memasang jaringan radio komunikasi, ternyata jadi modal membentuk berharga menjalankan roda Hipmi. Di era kepengurusannya badan pengurus cabang (BPC) Hipmi yang sebelumnya belum ada, berhasil dibentuk di seluruh kabupaten/kota yakni Bandar Lampung, Lampung  Tengah, Lampung Utara, Lampung Selatan, dan Tanggamus.

“Potensi bisnis tak hanya di Bandar Lampung. Kami mengembangkan Hipmi hingga kabupaten agar pengusaha di daerah tak hanya fokus pada jasa konstruksi. Masih banyak potensi bisnis di Lampung yang bisa dikembangkan. Kami ingin mengubah mental pengusaha agar jangan hanya bangga jadi kontraktor,” kata Ketua Penda Wushu Lampung (1999-2004) ini.

Meski lahir di Jambi, bagi Wakil Bendahara Depinas Soksi (2010-2015) versi Rusli Zainal ini, Lampung adalah kampung keduanya. Provinsi berjuluk Sai Bumi Ruwai Jurai ini, banyak memberi andil dalam karirnya. Terlebih Hipmi yang banyak berkontribusi dalam bisnisya. (*)

Selayang Pandang

Nama
Tempat Tanggal Lahir
Alamat
Perusahaan
:
:
:
:
H. Daryanto Dahlir, SE
Jambi, 6 Oktober 1985
Jalan Narada No.17, Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat
1. PT Arya Karya Perkasa
2. PT Vessylia Karyatama
3. PT Widya Sarana
Riwayat Pendidikan : 1. SD Xaverius, Jambi (1971)
2. SMP Negeri 1 Jambi (1974)
3. SMA Negeri 2 Tanjungkarang (1977)
4. Akademi Pimpinan Perusahaan (1982)
5. Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Perusahaan
Universitas Krisnadwipayana (1990)



Komentar


Leave a Reply

*

*